Menakjubkan, Fenomena Indah Di Antariksa Pada Bulan Juli

  • Whatsapp
Menakjubkan fenomena di bulan juli

Foto : Caleb Loeken/Unsplash

Bacaan Lainnya

banner 728x90

BASINGBE.com – Tidak sedikit dari kita yang meragukan tentang kehidupan di luar angkasa. Meskipun sunyi senyap dan tak berpenghuni, luar angkasa ternyata memiliki punya pesona luar biasa dan menarik, menakjubkan bukan. Tak heran jika manusia di bumi tertarik secara langsung untuk melakukan pengamatan. Tidak hanya itu, peneliti tertarik untuk mengksplore kehidupan dan fenomena yang terjadi di ruang gelap luar galaksi.

Dibulan Juli ini terjadi beberapa fenomena indah yang layak di list untuk melakukan pengamatan. Berikut ini fenomena indah yang terjadi di luar angkasa sebagaimana dilansir dari www.infoastronomy.org

12 Juli 2020: Konjungsi Bulan dengan Mars

Mau melihat planet Mars di langit? Mars akan berada di dekat Bulan pada 12 Juli 2020. Keduanya akan terpisah sejauh 2 derajat antara satu sama lain.

Untuk pengamatan, mulailah amati langit timur pada pukul 00.00 dini hari waktu setempat daerah kamu. Lalu, ketika Bulan sudah berada pada ketinggian sekitar 17 derajat dan Mars pada ketinggian sekitar 28 derajat dari cakrawala.

Gunakan teleskop dengan pembesaran minimum 130x untuk bisa melihat Mars lebih jelas. Tidak hanya itu, bahkan kamu dapat melihat Mars secara lengkap dengan tudung es kering di kedua kutubnya, waw menakjubkan. Pengamatan mata telanjang hanya akan menampakkan Mars seperti bintang merah terang saja

13 Juli : Fase Bulan Perbani Akhir

Perbani akhir adalah fase ketika Bulan hanya terlihat separuh. Hal ini terjadi karena, bulan telah mencapai 3/4 jalan dalam orbitnya mengelilingi Bumi. Bulan akan terbit pada tengah malam saat mencapai fase perbani akhir, lalu terbenam 12 jam kemudian (pada tengah hari). Dengan begitu, saat Matahari terbit, kita masih bisa melihat Bulan di langit yang biru.

14 Juli 2020: Jupiter Mencapai Oposisi

Dalam astronomi, oposisi adalah fenomena yang terjadi pada planet-planet yang berada di luar orbit Bumi ketika mengelilingi Matahari, yang juga disebut planet luar. Ketika mencapai titik oposisi,planet lain berada dan berseberangan dari Matahari.

Nah, oposisi sang planet terbesar di tata surya ini sedang berada di seberang Matahari dalam sudut pandang dari Bumi. Matahari-Bumi-Jupiter sedang berada pada garis lurus. Sehingga, membuat Jupiter terletak pada jarak terdekatnya dari Bumi.

Eits, terdekat di sini masih dalam skala kosmis ya. Jarak Bumi-Jupiter masih akan sekitar 4,14 AU, atau sekitar 619,3 juta kilometer. Dengan begitu, kenampakan Jupiter di langit Bumi juga masih akan seperti bintang, hanya saja akan lebih terang, yaki dengan magnitudo -2,7. Inilah saat terbaik untuk melihat Jupiter! Gunakan teleskop untuk pengamatan yang lebih jelas ya.

17 Juli 2020: Segitiga Bulan-Venus-Aldebaran

Untukmu yang rajin bangun pagi, apakah kamu menyadari adanya “bintang” yang sangat terang di langit timur laut saat dini hari? Itu bukan bintang, melainkan planet Venus!

Pada 17 Juli 2020, posisi Bulan akan berada di dekat Venus dalam pandangan dari Bumi, keduanya akan terpisah sejauh sekitar 3 derajat satu sama lain. Menariknya, akan ada bintang Aldebaran juga di antara mereka. Aldebaran sendiri adalah bintang raksasa merah paling terang di rasi bintang Taurus. waw menakjubkan!

Ketiga objek langit ini akan membentuk formasi segitiga yang cantik di langit. Kamu bisa mulai mengamatinya pukul 04.00 dini hari waktu setempat daerahmu hingga Matahari terbit untuk membirukan langit.

20 Juli 2020: Saturnus Mencapai Oposisi

Seolah mengikuti langkah Jupiter, planet Saturnus juga akan mencapai titik oposisi pada bulan ini, tepatnya tanggal 20 Juli 2020. Dan ya, inilah saat terbaik untuk melihat sang planet bercincin

Akan terlihat sepanjang malam, Saturnus akan muncul terang dengan magnitudo 0,1. Namun, karena jarak Bumi-Saturnus masih akan; sekitar 8,99 AU, atau sekitar 1,34 miliar kilometer jauhnya. Dengan begitu, kenampakan Saturnus dari Bumi kalau diamati dengan mata telanjang hanya akan seperti bintang kuning terang saja.

Kamu butuh teleskop dengan pembesaran minimum 75x untuk bisa melihat Saturnus lengkap dengan cincinnya. Meski begitu, kalau memang belum memiliki teleskop, pengamatan dengan mata telanjang juga tetap indah, kok!

27 Juli 2020: Fase Bulan Perbani Awal

Sama seperti perbani akhir, perbani awal adalah fase di mana Bulan tampak separuh. Bedanya, Bulan baru mencapai titik 1/4 dalam orbitnya mengelilingi Matahari, sehingga ia akan terbit pada tengah hari dan sudah terlihat di langit pada sore hari walaupun Matahari belum terbenam.

Mencapai langit atas kepala saat Matahari terbenam, Bulan perbani awal akan terbenam pada tengah malam. Secara astronomis, fase ini dicapai Bulan tepat pada pukul 19.33 WIB.

29 Juli 2020: Hujan Meteor Delta Akuarid Selatan

Eits, jangan panik dulu membaca bahwa akan ada “hujan meteor”. Fenomena ini merupakan fenomena periodik, yang artinya selalu terjadi tiap tahun. Dan pada tahun ini, kesempatan untuk mengamatinya datang lagi. waw menakjubkan !

Hujan meteor terjadi ketika dalam orbitnya mengelilingi Matahari, Bumi melintasi bekas jalur yang pernah dilalui sebuah komet. Bekas jalur tersebut berisi jutaan puing-puing kecil yang ditinggalkan oleh sang komet ketika menguap terkena radiasi Matahari.

Saat Bumi melintasi bekas jalur orbit komet yang berisi jutaan puing-puing kecil itu, sebagian besar dari mereka akan tertarik oleh gravitasi Bumi, lalu masuk ke atmosfer dan terbakar sebagai meteor. Nah, karena ukurannya kecil-kecil, meteor-meteor ini akan terbakar habis di atmosfer sebelum bisa mencapai permukaan Bumi untuk menciptakan kerusakan.

Asal muasal hujan meteor Delta Akuarid Selatan sendiri adalah dari Komet P/2008 Y12 (SOHO), sebuah komet yang mengitari Matahari setiap 5,39 tahun. Nama “Delta Akuarid Selatan” sendiri berasal dari titik radian kemunculan hujan meteor ini di langit Bumi, yakni di sisi selatan dari bintang Delta di rasi bintang Akuarius.

Akan ada 20-an meteor per jam yang bisa diamati pada puncaknya tanggal 29 Juli 2020, dengan catatan lokasi pengamatan gelap gulita minim polusi cahaya. Pengamatan juga wajib dilakukan dengan mata telanjang, tanpa perlu teleskop. Fenomena ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia selama cuaca cerah mulai pukul 21.00 malam waktu setempat hingga Matahari terbit esok harinya.

Nah, itulah fenomena langit Juli 2020 yang bisa kita amati bersama sepanjang bulan ini. Jangan lupa simpan artikel ini untuk jadi kalender astronomi kamu,waw menakjubkan bukan!

Editor : Slamet Setya Budi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *