Sajak “ Mendung Di Sebuah Relung ”

  • Whatsapp

“Mendung Di Sebuah Relung”

Kemarin masih bisa kurasakan usapan tangan halusmu menyeka bulir keringat di dahiku yang menetes deras menunggu hadirmu menjamah perasaanku. Namun sekarang, lagi-lagi aku harus sembunyi dari hantaman luka dari cerita yang kau buat, dari tawa yang tercipta, tanpaku.

Kau bilang, meninggalkanku adalah suatu pilihan yang tak bisa kau hindari, meski sebenarnya tetap aku yang kau cintai. Tapi itu terdengar lebih mirip seperti lelucon buatku, bagaimana mungkin bisa kau pergi jika memang aku yang…ah sudahlah. Aku tak ingin menjatuhkan perasaanku sendiri di hadapan logika yang baru saja pulih.

Bacaan Lainnya

banner 728x90

Lihat, awan hitam seperti sangat mengerti perasaanku hari ini, menutupi sinar matahari yang seharusnya menyinari sisi gelap hati ini. Seolah mereka berkumpul di atas kepalaku dan menurunkan rinai, sebagai pengganti air mata yang tak mungkin ku teteskan, layaknya seorang laki-laki menyembunyikan perasaan, aku tak ingin terlihat rapuh. Gelak tawaku bersama orang-orang di sekitarku memang lepas dan tanpa batas, tapi asal kau tau, itulah caraku memulihkan perasaan, ada luka di dalamnya. Aku hanya mengurai rasa sakit agar tak bertumpuk dan mengendap bahkan terasa pahit.

Aku mencoba mengubah sudut pandangku tentang sebuah hubungan, mencoba mencari makna arti sebuah ketulusan. Dimana nanti takkan lagi kutemukan rasa sakit, tapi rasa yang selalu menjadi semangat hariku ketika aku berusaha untuk bangkit. Dan itu semua kulakukan karena rasa trauma yang mendalam atas apa yang telah kau berikan.

Bukan dendam yang kini sedang kupendam, namun harapan untuk menemukan kebahagaiaan. Seakan termotivasi dengan apa yang telah terjadi, sayangnya semua berorientasi pada materi. Mungkin aku layak disebut dengan si perusak seni mencintai. Apapun itu, aku tetap menjadi apa yang aku mau, tak peduli dengan bagaimana hasilnya nanti.
Ya.. Egoku masih saja tinggi menyelimuti keadaan hati yang tergeletak dan hampir mati.

Mungkin kini aku lebih pantas kau sebut monster, yang berhasil kau ciptakan dari hasil eksperimenmu yang berformulakan rasa sakit yang sangat pahit. Hanya menunggu untuk kau lepas lalu memberontak dan menghancurkan semua tulang hingga meremukkan tengkorak.
Kau boleh anggapku seperti itu.

Beberapa hati pun sebenarnya silih berganti menawarkan diri untuk menjadi pengisi hari. Hanya saja aku tak bisa menjalani sebuah hubungan dengan perasaan yang hanya setengah. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyendiri.

Bukan karena angkuh, tapi tak siap untuk melihat mereka terjatuh ketika menyadari bahwa rasaku tak utuh. Sebab kepercayaanku tentang perasaan kini sedikit memudar, rasanya tak ingin lagi menjalani sebuah hubungan yang mempunyai keterikatan. Aku mengelabuhi perasaanku sendiri dengan kesibukanku meniti karir tanpa memikirkan kapan rasa sakit ini berakhir.

Menjalani hari tanpamu sudah menjadi hal yang biasa kujalani, semua tentangmu telah kusimpan dalam-dalam dan kukunci rapat. Kadang sesekali ku kunjungi tempat penyimpanan kenangan bersamamu yang ada di dalam benak, sekedar untuk mengenang, hanya sebentar lalu ku terus beranjak.

Penulis : Februarief
Editor : SS.Budi
Copyright : Basingbe.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *