Pernah Diremehkan, Jadi Badut, Hingga Menjadi Anggota Polisi

  • Whatsapp
Perjuangan Menjadi anggota polisi

BASINGBE.com – Dalam video yang berjudul Perjuangan Anak Kuli Bangunan Menjadi Anggota Polisi yang diupload dalam channel Subbaghumasponorogo pada 23 Maret 2018 silam patut diteladani. Bagaimana tidak, perjuangan, doa dan restu oang tua adalah kunci sukses dalam meraih cita – cita.

Keterbatasan pasti ada namun tekad dan impian untuk mewujudkan cita – cita terus menggelora. Setidaknya belajarlah untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab pada impian diri kita sendiri.

Read More

Dalam video yang berdurasi 10 menit 43 Detik, Tangis bahagia pecah saat sang anak menemui orang tuanya sembari mengenakan baju seragam Anggota Polisi. Anak dari pasangan bapak Marmo dan Ibu Sumarni memang dikenal pekerja keras dan tangguh.

Bapak Marno sendiri bekerja sebagai pekerja serabutan kadang kuli bangunan, pelihara burung, bahkan menarik becak. Sementara itu, Ibu Sumarmi bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga.

Ibu Sumarmi menyatakan bahwa setelah lulus SMK Bripda Erdha pernah mendaftar sebagai polisi dan gagal. Setelah itu, Erdha melamar untuk bekerja di Konter HP dan menjadi Juru Parkir. Setiap pagi sang ibunda membangunkan Bripda Erdha agar melakukan shalat tahajud. Tujuannya agar anaknya sukses dan cita – citanya terwujud.

” Saya tiap pagi bangunkan Erdha agar Shalat Tahajud bersama pakde saya, jam 01.30 WIB dinihari. Agar cita – citanya terwujud, karena saya tidak memiliki cukup biaya dan saya bahagia dengan apa yang ia capai saat ini”. Tutur Ibunda Erdha

Pemuda kelahiran Ponorogo 14 Juni 1997 menjelaskan, sebelumnya banyak yang meragukan dia bakal bisa meraih cita-cita yang sudah diimpikannya sejak kecil itu. Terutama beberapa tetangga dekatnya. Bahkan orang tuanya pun mengatakan hal yang sama.

“Anak saya cuma anak kuli bangunan. Terus kok bercita-cita jadi polisi. Apa bisa jadi polisi kalau tanpa biaya, bpak orang yang tidak punya apa – apa’’. Tutur Bapak Marmo sambil mengelus dada.

Bripda Eka menuturkan bahwa untuk menjadi Anggota Kepolisian ini ia pernah merasakan gagal. Namun, tekadnya lebih besar daripada keraguan. Lulus dari SMK 2015 silam, ia mengatakan mendaftar Bintara Polri.

Ia ingin membalikkan persepsi orang-orang yang menganggapnya tidak mampu menjadi anggota polisi.

Ia mengenang, 2015 setelah lulus dari SMK Pemkab Ponorogo, dia langsung mendaftar di bintara Polri. Sayang, meski sudah didasari niat, tekad serta usaha sungguh-sungguh ternyata belum berhasil memasukkannya ke Diktubba Polri. Dia dinyatakan tidak lulus.

“Saya tak lemah. Saya harus bangkit dengan cita-cita setinggi langit. Sambil nunggu saya kerja di salah satu swalayan. Mulai penjaga toko, penjaga parkir juga badut,” bebernya.

Ia menjalaninya selama 9 bulan. Karena dikesempatan kedua 2016, ia mencoba kembali. Tapi lagi-lagi harus gagal saat tes psikologi.

“Karena gagal saya harus nyari kerja lagi serabutan. Bahkan juga mencoba angkatan udara saat penerima tamtama. Tapi gagal lagi,” bebernya.

Ia pun tak putus asa, karena ada pembukaan pendaftaran Bintara Polri kembali. Ia sempat pamit ke orang tuanya.

Sayang, bapak dan ibunya kala itu melarangnya. Dengan alasan khawatir jika cita-cita Erdha menjadi anggota polisi tidak kesampaian bisa stres.

Tapi, secara diam-diam Erdha nekat mendaftar lagi di Polda Jatim, Surabaya. Waktu itu dia sengaja tidak meninggalkan pekerjaannya di PT. Wings Surya karena kalau gagal bisa langsung kembali bekerja.

‘’Alhamdulillah untuk yang ketiga ini saya diterima mengikuti Diktubba bintara di SPN Polda Jatim,’’ ungkapnya gembira.

Ia mengatakan, ketiga kali mendaftar, ketiga kali nya itu beruntun. Dari 6.000 pendaftar se Jawa Timur hanya diambil 911 orang.

Namun, keberhasilan Erdha masuk SPN Polda Jatim itu belum membuat perasaan kedua orang tuanya lega. Pasalnya, mereka masih berfikir bagaimana nanti untuk biaya pendidikannya.

Sebab, penghasilan bapaknya hanya kecil dan ibu Erdha selama ini juga tidak bekerja. Tapi, kala itu Erdha meyakinkan bahwa selama mengikuti Diktubba dia tidak memerlukan bantuan biaya dari kedua orang tuanya.

“Sebelumnya kan saya kerja. Saya tabung untuk biaya makan dan transportasi sebelum pendidikan,” jelasnya

Selama tujuh bulan Erdha mengikuti Diktubba Bintara. Sejak bulan Agustus 2017 hingga dinyatakan lulus dalam prosesi pelantikan tanggal 6 Maret 2018 lalu.

Sekarang, Erdha sudah resmi menjadi anggota Polri seperti yang dicita-citakan dulu. Keberhasilannya itu juga membuat lega kedua orang tuanya yang sebelumnya sempat pesimistis.

“Saya benar-benar bersyukur sekali, bisa membuktikan kepada orang tua bahwa jadi anggota polisi itu tidak butuh biaya banyak seperti yang beliau pikirkan,’’ paparnya.

Kini, Erdha tidak hanya berhasil menjadi anggota Polri. Tapi meluruskan persepsi di masyarakat, bahwa menjadi anggota Polri pun bisa nol rupiah alias tidak mengeluarkan biaya.

[IT_EPOLL id="3035"][/IT_EPOLL]

Related posts

banner 72890

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *