Gema Petani Jambi Adakan Diskusi Publik ‘#Junawal di Ambang Pilu’

  • Whatsapp

BASINGBE.com – Gerakan Mahasiswa Petani Indonesia wilayah Jambi atau akrab dikenal dengan GEMA PETANI wilayah Jambi kembali mengadakan kegiatan diskusi publik yang bertajuk Bincang-bincang ala kaum tani jilid IV.

Bincang-bincang ala kaum tani jilid IV kali ini dijadwalkan akan diadakan di salah satu cafe di daerah Mendalo, Muaro Jambi yakni Ngaleh tea & coffee pada esok hari, Rabu 2 september 2020 pukul 19.00 sampai selesai.

Bacaan Lainnya

banner 728x90

GEMA PETANI adalah organisasi mahasiswa yang selalu membawa isu perjuangan kaum tani mulai dari Reforma Agraria, Kedaulatan Pangan, Pertanian Agroekologis, Koperasi Petani, Anti Neoliberalisme dan hak asasi petani.

“Agenda bincang-bincang ala kaum tani ini adalah sebuah bentuk perlawanan kita terhadap hal-hal yang tidak berpihak kepada kaum tani melalui forum forum diskusi, harapannya tentu dengan agenda ini bisa lebih membuka mata dan pikiran kita masyarakat luas akan apa yang tengah mendera kaum tani. Kegiatan ini juga bukan sekadar romantisme aktivis semata tapi adalah bagian dari sebuah bentuk perlawanan”, terang Yoggy E Sikumbang Ketua umum GEMA PETANI Provinsi Jambi.

Bincang – bincang ala kaum tani jilid IV dengan tema #JUNAWAL DI AMBANG PILU akan di moderatori oleh Brama ale. Brama ale notabene adalah ketua DPC GEMA PETANI Universitas Jambi.

Selanjutnya, dalam bincang-bincang ala kaum tani jilid IV ini akan hadir juga perwakilan OKP Mahasiswa di Jambi sebagai pembicara di antara nya Dio alif dari PMII, Wiranto dari GMNI, Rahman Kahfi dari HMI, Nathalia flona dari GMKI, Gomgom dari PMKRI, Agustia gafar dari KAMMI serta dari GEMA PETANI sendiri di wakilkan oleh Anjasmara.

Latar Belakang Diskusi

#Junawal adalah pimpinan petani yang mempertahankan hak atas tanah yang berkonflik dengan PT. Lestari Asri Jaya (LAJ). Perusahaan yang dikenal dengan sebutan LAJ merupakan anak dari perusahan Barito Pasifik yang bekerjasama dengan Michellin perusahaan asal Prancis.

Junawal kemudian ditangkap oleh Polres Tebo pada tanggal 26 Mei 2020 di rumah orang tua nya di Simpang niam Tebo saat bersilahturahmi Idul fitri. Sejatinya mahasiswa adalah sekutunya kaum tani dan rakyat tertindas, selain aksi demo, diskusi adalah upaya kita menyuarakan dan mencari formula penyelesaian konflik dan permasalahan yang di hadapi kaum tani, ucap anjasmara dari gema petani jambi

“sedari awal kasus tentang junawal ini terus kita kawal, hingga sekarang sudah memasuki persidangan yang ke enam kali nya, harapan kita dari hasil diskusi ini kita para mahasiswa kembali tersadar untuk membicarakan, menyuarakan dan mencari jalan keluar dari penderitaan kaum tani miskin dan tertindas” tegas Anjasmara.

Menurut Gomgom dari PMKRI Jambi, sistem Agraria di Indonesia saat ini sangat lah kacau. Banyak Konflik yang terjadi dan melanda Indonesia khususnya Provinsi Jambi. Dari tahun ke tahun ada saja terus Konflik Agraria dan belum menemui titik temu untuk penyelesaian nya.

“Bahkan Sampai saat ini banyak tambahan kasus lagi yang bertambah karena mungkin PERDA yang belum jelas akan masalah ini sehingga menimbulkan efek berkesinambungan. Harapan saya dengan diskusi ini aemoga kelak apa yang tersampaikan di forum nanti bisa menjadi wacana di Pemprov agar kiranya mampu meminimalisir konflik agraria ini” tegas Gomgom.

Hal senada diucapkan oleh Wiranto dari GMNI, 75 Tahun sudah Indonesia merdeka, namun sampai sekarang rasa kemerdekaan itu belum atau bahkan tidak dirasakan sama sekali oleh kebanyakan masyarakat kecil (petani, buruh dan nelayan), jeratan sikap kapitalisme bangsa sendiri tidak beda dari tindakan penjajah zaman dulu.

“Terkhusus petani di provinsi jambi langkah nyata dalam mewujudkan kemerdekaan seutuhnya untuk masyarakat petani belum gamblang langkah konkritnya, tanggal 2 September 2020 ini kita mahasiswa berdiskusi tentang luka dan airmata di bumi ibu pertiwi semoga diskusi kali ini memancing semangat mahasiswa untuk sama-sama peduli terhadap petani anak kandung ibu pertiwi” tegas Wiranto

Petani adalah salah satu yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, karena penyuplai makanan untuk masyarakat ini adalah petani, oleh sebab itu sebagai mahasiswa hendaklah kita memperhatikan kesejahteraan petani.

“Saya sendiri menyoroti perkembangan petani, sudah sejauh mana pemerintah sanggup menyejahterakan petani, dan sudah sejauh mana sosialisasi peraturan tentang kesejahteraan petani, karena semua tau petani di masyarakat seperti apa. Terutama Jambi banyak masyarakat petani yang terkena dampak deskriminasi akibat ketidaktahuan masyarakat terhadap undang-undang perlindungan terhadap petani sehingga di deskriminasi oleh pihak-pihak tertentu. Salah satunya adalah junawal seorang petani yang di tangkap oleh pihak berwajib dengan tidak semestinya untuk membungkam masyarakat petani, sebagai mahasiswa hendaknya kita sama-sama mengawal pemerintah untuk bisa mensejahterakan petani” Ucap Rahman Kahfi kader dari Himpunan Mahasiswa Islam.

Secara terpisah, Flona dari GMKI menyebutkan perjuangan Junawal merupakan bagian dari upaya untuk mencapai reforma agraria sejati dan upaya mempertahankan kehidupan.

“Pak Junawal adalah salah satu dari banyaknya petani yang di kriminalisasi saat berjuang mempertahankan tanahnya untuk kehidupan. Kita sebagai mahasiswa diharapkan mampu menjadi kelompok penekan dan terlibat dalam perjuangan para petani hingga tercapainya reforma agraria sejati” tegas Flona Menurut Agustia gafar dari KAMMI.

Agenda bincang bincang yang dikemas dalam diskusi publik ala kaum tani, kali ini menunjukan bahwa okp atau mahasiswa Jambi itu peduli dengan petani. Bahwa mahasiswa jambi memang harus terus membuktikan kepeduliannya terhadap nasib para petani.

“Dan sebagai mahasiswa hukum tentunya saya merasa jengkel melihat keadilan tidak berpihak pada petani dan kita harus ingat dengan asas hukum yaitu SALUS POPULI SUPREMA LEX ESTO (bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi), dan pak Junawal sendiri disitu membela petani yang ditindas oleh perusahaan” ujar Agustia Gafar.

Berkomitmen melawan segala mentuk diskriminasi kekerasan terhadap agraria yg dilakukan perusahaan atau pun negara, harus terus di lakukan karena itu melanggar Konstitusi, semangat ini harus terus dikobarkan dalam diri mahasiswa, tutup Dio alif dari PMII. (Citizen Jurnalism)

Editor : Slamet Setya Budi

banner 728x90

Pos terkait

banner 72890

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *