Awalnya Tanaman Karet di Jambi Hanya Coba – Coba

  • Whatsapp

BASINGBE.com – Provinsi Jambi secara resmi berdiri pada tanggal 6 Januari 1957, setelah memisahkan diri dari kawedanan Sumatra Tengah. Kawedanan Sumatera Tebgah wilayahnya meliputi Sumatra Barat (Padang), Riau, dan Jambi.

Komoditas unggulan sebagai mata pencaharian masyarakat Jambi pada umumnya berprofesi sebagai petani karet.

Bacaan Lainnya

banner 728x90

Tahukah kamu? Pada awalnya, karet hanya ditanam pada kebun-kebun percobaan milik pemerintah kolonial Belanda yang berada disekitar ibu kota Jambi. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1907 saat Residen Jambi dipimpin oleh O.L. Helfrich, secara massif mengadakan pembibitan anak karet. Tak tanggung – tanggung, pada saat itu sebanyak 30,000 bibit pohon karet dibagikan ke masyarakat secara gratis.

Pada awal mulanya, masyarakat Jambi menanam karet di sekitar tempat mereka tinggal dan di sepanjangan daerah aliran sungai. Selain tanaman karet, masyarakat juga membudidayakan tanaman lain seperti singkong, padi ladang dan lain sebagainya sembari menunggu karet produktif. Tanaman karet terbukti juga berhasil menarik penduduk dari luar Provinsi Jambi, yakni seperti berasal dari padang, Pulau Jawa dan Palembang.

Mereka berdatangan ke Jambi untuk menjadi penyadap karet, selain komoditi karet di Jambi juga bernilai jual tinggi, disamping itu, memang di Jambi sendiri kekurangan tenaga panyadap karet. Luas kebun karet yang sudah siap disadap pada tahun 1924 mencapai 865,476 batang dan membutuhkan jumlah pekerja sebanyak 12.000 orang, dengan penghasil atau upah F 0,50 (kurs mata uang belanda pada saat itu) setiap harinya.

Karet memang terbukti membantu perekonomian rakyat Jambi. Tak heran apabila karet menjadi tanaman ekspor andalan dari Jambi selain kopi, lada dan kelapa (kopra).

Karet yang dihasilkan para petani di jual kepada padagang cina yang datang langsung kepedalaman Jambi. Selanjutnya, dijual kepengepul di Singapura sebagai komoditi ekspor yang menguntungkan. Namun harga karet mengalami fluktuasi, harga karet mengalami penurunan drastis dari tahun 1928. Hal ini disebabkan lesunya industri pembuatan ban mobil di Amerika Serikat. Sehingga berdampak langsung terhadap komoditi karet di wilayah Hindia Timur.

Harga karet di Batavia (Jakarta) pada triwulan pertama tahun 1930 harga karet masih mencapai 54 sen/kg namun anjlok secara signifikan pada triwulan kedua menjadi 20 sen/kg. Dan pada tahun 1932 turun lagi menjadi 8 sen/kg. Dengan ini pemerintah kolonial Belanda mulai mencari solusi dan memikirkan untuk melakukan pembatasan hasil produksi karet.

Pada tahun 1937, pemerintah kolonial Hindia Belanda mengeluarkan pembatasan produksi di seluruh kawasan hindia timur (Indonesia). Caranya yakni dengan menerapkan sistem kupon, dalam artian para petani harus mempunyai kupon terlebih dahalu untuk menjual karetnya kepada para toke.

Sejak saat itu masyarakat Jambi terus menanam komoditas Karet hingga sekarang. Yang awalnya hanya tanaman kebun percobaan sekarang menjadi komoditas andalan masyarakat Jambi.

Penulis : Tedi Kurniawan/Mahasiswa UIN STS Jambi

Editor : Slamet Setya Budi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *