Masa Depan Lebaran Terjadi 3 Kali Setahun, Dimulai Tahun 2030

  • Whatsapp

BASINGBE.com – Umat Islam se-Dunia sedang merayakan lebaran tahun 2021 atau 1 Syawal 1442 Hijriyah, walau dalam kondisi pandemi Covid-19. Dua kali Ramadan dan Idul Adha akan dialami umat muslim dimasa yang akan datang yakni dimulai pada tahun 2030.

Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin menerangkan, peristiwa dua kali Ramadan dan satu Idul Adha dalam satu tahun masehi pernah berlangsung saat menjelang memasuki tahun milenium.

Bacaan Lainnya

banner 728x90

Baca Juga : Masa Lalu Kelam, Seorang Petani di Prabumulih Sodomi Bocah Sejak 1992

Antara lain, tahun 1998 Ramadan 1418 dan 1419; tahun 1999 Ramadan 1419 dan 1420; tahun 2000 Ramadan 1420 dan 1421.

Dimasa yang akan datang hal itupun dapat terulang. Ya, 9 tahun yang akan datang atau tepatnya tahun 2030, bulan Ramadan dan Syawal diprediksi terjadi dua kali dalam setahun. Artinya, pada tahun itu umat Islam mengalami tiga kali hari raya, yakni dua idul fitri dan satu idul adha.

Selain tahun 2030 atau Ramadan 1451 dan 1452, dimasa yang akan datang juga akan terjadi Ramadhan 2 kali yakni tahun 2031 Ramadan 1452 dan 1453; tahun 2032 Ramadan 1453 dan 1454.

Baca Juga : Penyebab 67 Negara Miskin Bakal Kekurangan Vaksin COVID19

“Hal itu berulang sekitar 33 tahun, karena kalender Hijriyah dan kalender (ada selisih) 10,9 hari (33 x 10,9 = 359 hari),” ungkap Thomas, dalam website resmi Lapan seperti dilihat Selasa (4/5/2021).

Dimana masyarakat, pada tahun 2030 diprediksi akan dapat merayakan dua kali bulan suci Ramadhan yang penuh berkah dan Hari Raya Idul Fitri. Namun, Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menyampaikan bahwa fenomena langka itu merupakan hal yang sudah biasa terjadi.

“Ini hal yang biasa, tidak ada yang istimewa,” ujar Thomas Djamaluddin.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Grup Astronomi Dubai Hassan Ahmed Al Hariri menyampaikan bahwa fenomena tersebut tidak boleh dianggap sebagai fenomena semata.

Baca Juga : Setelah Dijemput Polisi, Oknum Waria Berjanji Tak Akan Mengulanginya Lagi

Hassan Ahmed Al Hariri menjelaskan bahwa itu terjadi lantaran kalender Islam terpaku pada tahun Bulan atau Qomariyah, yang secara konsisten bergerak sekitar 11 hari lebih pendek dari tahun Matahari (Hijriah).

Kemudian, untuk setiap tahun berlalu, dan tergantung pada penampakan hilal Bulan, Ramadhan mundur sekitar 10 atau 11 hari dari tanggal semula.

Baca Juga : Lulusan SMA/SMK Sederajat Bisa Daftar CPNS 2021, Simak Syaratnya

banner 728x90

Pos terkait

banner 72890

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *